edisi 01-Tradisi (nyaris) Tanpa Esensi

edisi pertama b4, bukan berita bergambar biasa. Visualisasi dari tulisan balkon edisi dies natalis 2008, “Tradisi (itu)Nyaris Tanpa Esensi”.

01

021

03

04

21 Respon untuk edisi 01-Tradisi (nyaris) Tanpa Esensi

  1. matur nuwun sudah singgah..

  2. ada yang tak terima ketika b4 meluncurkan edisi pertama lantaran tulisannya dipakai sebagai bahan tanpa izin. Menurut empunya cerita, ‘beliau’ alias sang penulis menganggap kami mengambil ide tulisannya tanpa izin.hmmm…padahal maksud kami baik…memberi kehormatan eh malah dianggap melecehkan.

    Seperti kami tulis di kata pengantar, “pada suatu hari”, b4 tidak bermaksud menyaingi dua sesepuh, balkon dan bulaksumur pos. Justru, seperti yang kami tulis di “pada suatu hari”, kami ingin berita tersebut diserap lebih banyak lapisan. Lantas kami juga memberikan sedikit saran dan kegundahan di akhir cerita. Ini sebagai bentuk koreksi kami atas diri kami sendiri dan apa yang kami pahami. Sayang, seperti ditulis di atas, cara tersebut rupanya tak berkenan di hati sang empunya tulisan. oh ya, kami juga mencantumkan referensi tulisan kami.

    Ngomong-ngomong, mengapa tulisan tersebut kami angkat sebagai edisi perdana?
    he”, ini berawal dari iseng-iseng tanya tak ilmiah dengan beberapa teman. Kami menganggap isi balkon edisi tersebut menarik lantaran merefleksikan kondisi UGM terkini. Salah satu tulisan yang kami anggap cukup asyik untuk disimak adalah “Tradisi itu (Nyaris) Tanpa Esensi”. Sayang, ternyata apa yang kami rasakan tak sama dengan penangkapan teman lain yang membaca balkon tersebut.
    Menurut mereka, justru tulisan itu yang paling sering dilewatkan karena, mereka bilang, membosankan. Atau dalam bahasa mereka terlalu berat,(maaf) tak enak dibaca. Berawal dari kejadian itulah , kami merasa sayang jika isu tersebut tak sampai hanya lantaran kemalasan atau kengganan untuk menyimak. Maka, kami merasa tertantang untuk menghadirkan isu tersebut dengan cara kami, yaitu komik.

    Mungkin, menurut hemat sang penulis, kami lancang menerbitkan tulisannya. Namun, kami punya pendapat berbeda. Ketika sebuah kisah diceritakan kepada publik, maka selayaknya ia menjadi milik publik. Apalagi ketika ia sudah dibahasakan atau dikisahkan dengan cara berbeda. Mana yang paling berhak mengaku sebagai pemilik sah kisah dewi sri? orang sunda dengan nyi pohaci atau orang jawa, atau orang NTB dengan kisah batara gurunya? Apapun tiu, kritikan tersebut kami anggap sebagai bentuk kepedulian orang tua kepada seorang anak ingusan. Kami ucapkan terima kasih atas masukannya.

    Oh ya, teman-teman juga boleh ikut nimbrung masalah ini lho,
    tabik

  3. bagus dan sangat menggelitik.

    kapan nih edisi 02 nya muncul kembali. saya akan tunggu di halaman ini.

    • minggu depan sudah bisa dinikmati mas eko. btw alamat situsna mbok dicantumin biar bisa saling meninggalkan jejak.
      thanx b4

  4. sebenarnya mengutip itu sah-sah saja. Asal referensinya ditulis jelas. Yg kayak gitu masalah etika dan kebesaran hati untuk mengakui bahwa idenya bukan asli dari sang penulis. emang sih, g da yg bener2 asli. So, penulisan referensi itu perlambang kerendahan hati qt tuk mengakui kelemahan tersebut. keep fight, whatever it is

  5. Jare koncoku dia menemukan ‘roh’ pentingnya membaca produk pers ma ya b4 ni… idealnya persma memang jadi manifesto masyarakat komunikatif dalam sebuah ruang publik.. apapun yang terjadi dibalik ide b4… teruslah majuuuuuu!

  6. Usaha yang bagus dalam mengemas suatu artikel atau tulisan dalam bentuk komik nih… tapi terus terang masih banyak kekurangnya [jangan tersinggung ya...] aku nggak baca semua teksnya tapi aku paham pesan apa yang [berusaha] dikomikasikan [komunikasi lewat komik]. pesan yang ingin disampaikan malah bikin pusing pembaca dab…apalagi dengan ilustrasi yang dipaksakan… kurang menggigit deh…dengan kata lain pembaca harus mikir apa sih situasi yang ingin digambarkan. tapi its ok lah…good try.

    • matur nuwun mas….justru itu yang kami tunggu. Kami sadar da banyak kekurangan dalam edisi pertama. Mulai dari ilustrasi yang maksa, sampai gambar yang g jelas proporsinya. Di edisi kedua, kami berusaha tampil lebih baik. mohon tetap memberi kritikan dan saran kepada kami. nuwun [^^]

  7. ide b4 benar2 keren…kudengar b4 merupakan komik jurnalistik pertama!? awesome!(dibaca aw-sem)

  8. ^^ Kadang sesuatu yang positif bisa dianggap negatif.

    Senang bisa ikut ngurusi b4. (walau cuma 5 menit dari 120 menit) ^^,
    SEMANGATH ya!

  9. b4 bukan komik jurnalistik yang pertama…Joe Sacco udah jauh-jauh hari memulai. Di Indonesia, setelah diary mbak tita, dan bulakomik,kami mungkin komik jurnalistik yang terbit berkala. Tapi g tau juga, lha wong masih satu edisi. mohon dukungannya….[^^]

  10. Semakin banyak media, ya semakin baik tho. Yang jelas jadi ada alternative bacaan. Mungkin perlu reportase kecil-kecilan untuk menambah bobot gambarnya.

    Temanya hanya seputar UGM, po ?

    • sip pak kelik…sebenarnya kami ingin mengenalkan beberapa model atau genre komik jurnalistik. edisi pertama kami mengambil genre visualisasi artikel, kayak MAUS-na Art Spiegelman. Lantas edisi kedua kami mengambil model data-based journalism ala elliot JAspin. edisi ketiga kami mencontoh gaya Joe Sacco yang tersohor. Matur nuwun sanget atas sarannya….[^^]

  11. idenya asik sih, tapi kayaknya kudu di re-desain deh…ni cuman copy paste dari versi cetaknya kan? kudunya dibikin beda desain buat web ma cetak..soalnya suka g kebaca. kan formatnya jpeg…tapi gw suka idenya ..btw tuh kejadiannya di ugm yah? klo di UI g da yg kyk gtu…demo k rektorat jarang, pers ma na ya sama aja..sukanya g banget ma rektorat..g mikir solusi atawa duduk bareng kek…salut bro…

  12. salutttttttt buat edisi pertama b4.
    tapi…kok gambar dan tulisannya ga kebaca ya ?? opo mung di scan yo??? hehehe…

    btw…temanya emang hanya ngambil dari bal ya ??
    kok ga buat tema2 sendiri?
    coba dong buat tema tentang sekolah alam raya. Pasti akan menjadi topik yang menarik

  13. sy mdapat info ini ketika googling komik jurnalistik. Sebenarnya masalah ini adalah bukan masalah obyektifitas apalagi etika jurnalistik. Ketika sebuah berita dimuat di koran, ia merupakan milik publik. Ini berbeda ketika tulisan itu adalah sebuah opini. Sebuah berita sah dicantumkan, dikutip, dijadikan rujukan, bahkan disela, dan dikritisi. Lebih lanjut baca pengantar Goenawan Muhammad dalam Palestina Membara-nya Joe Sacco.

    Pemilihan komik sebagai medium, tentu saja sudah dapat digarisbawahi bahwa sang pembuat media, siapapun itu, sedang tidak pada ranah netral obyektif. Berbeda dengan fotografi, sebuah komik menghilangkan jeda antara dunia nyata dan fantasi. Serealis apapun, ideologi sang pembuat media akan nampak dalam tiap goresan dan penggambaran adegan. Lantas bagaimana sisi keobjektivitasan sebuah komik jurnalistik? lebih lanjut baca link ini.

    Lg2 sy kudu mengerenyitkan dahi ketika ada seorang penulis, siapapun dia, yang marah2 ketika tulisannya dikritisi. Bisa jadi itu dua hal : pertama, tulisannya sudah sangat sempurna sehingga tak layak dikritisi. atau kedua, ia merasa dikritisi oleh orang yang tak pantas mengkritisi. Sy kira apapun dari dua kemungkinan tersebut tidak melalaikan tujuan awal jurnalistik : memberikan informasi dan menyediakan ruang diskusi bagi publiknya.

    salam,

    Wirya Gunardi
    alumni persma,
    sekarang ngobyek di ibukota

  14. sedah satu minggu dari rencana penerbitan edisi 02, kok sampai sekarang belum muncul edisi 02 nya.

    **menunggu mode on**

  15. iya, gambarnya kurang jelas. tapi aq namngkep maksudnya…
    iya sih, emang biasanya koran kampus tuh suka berita yang kontra terus, g da damai-damainya atau bikin apa kek, jadi males bacamya…nah klo b4 kayak git ya sama aja..

  16. displaynya beda sama edisi 2….
    udah baca tulisannya tagore lum ? atau milan kundera? kalau dah baca g perlu lagi ngomongin sebuah tulisan milik siapa…klo dah baca masih dongkol juga, brarti tuh orang kudu ganti helm…kepalanya kegedean…(angkuh jing!!!)

    rury, Mipa 2006

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s